Category Archives: Article

VGMC-AGMAC, Penipuan Tak Berkesudahan

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada semua pengunjung blog, ternyata postingan saya yang berjudul VGMC Itu Penipuan menjadi populer dan disimak dengan serius. Jadi, bagi yang baru membaca postingan ini, ada baiknya menyimak apa yang saya tulis di tulisan sebelumnya. Tujuan saya saat itu hanya agar tidak ada lagi korban2 penipuan (scam) berbasis skema Ponzi ini semakin berjatuhan. Tapi sayangnya saya keliru, VGMC lebih lihai sekarang dengan adanya AGMAC dan semakin aneh2 dengan CPS Platinum dan CPS Silver yang saya sendiri orang awam melihatnya jadi geli tapi tambah prihatin. Berita terbaru sendiri menyebutkan ada pula namanya Deklarasi Pemegang Saham yang buat saya hanyalah praktek mengulur2 episode ke-sekian kalinya.

Saya akan bahas satu2 agar semua yang membaca postingan saya lebih mudah memahami konten yang saya utarakan. Dan mohon maaf, saya tidak bisa menulis ini dalam bahasa Inggris karena target saya untuk postingan ini adalah untuk orang Indonesia yang paling banyak terjebak oleh penipuan ini. Dan saya tidak akan pakai bahasa bertele2, saya akan melihat dari sisi awam dan humanis sehingga lebih mudah dipahami.

1. AGMAC

Asian Gold Mining Asset Corporation (AGMAC) ditujukan untuk mengalihkan CPS Gold yang sudah macet sejak Oktober 2012 kemarin. Dari sini saja sudah bisa ditebak kalau orientasi investasi VGMC jadi kabur dan sangat tidak masuk akal. Pertanyaan yang menjadi krusial gara2 hal ini adalah: Jadi VGMC ini perusahaan tambang, atau perusahaan investasi tambang, atau investasi emas semata atau apa sih? Pengelolaan Professional Closed End Fund (PCEF) sendiri kok malah terkesan semakin ribet? Kok bisa2nya dialihkan?

Saya lebih membacanya sebagai usaha mengulur2 waktu dan memberi harapan2 “menjelang IPO” yang entah berapa banyak korban VGMC mengerti maksudnya. Sekarang pertanyakan saja secara logis, dulu memasukkan uang dalam jumlah besar agar mendapat deviden segera kan? Kok mau diulur2?

Atau jawab saja pertanyaan yang sampai detik ini tak terjawab: di mana lokasi tambang emas VGMC?

2. Deklarasi Pemegang Saham

Ini apa? Dalam dunia investasi setahu saya tidak ada namanya deklarasi pemegang saham. Saya membacanya ini sebagai usaha menilapkan saham yang dimiliki shareholder karena bisa saja perusahaan mengalihkan kepemilikan saham preferen ke saham biasa atau sebaliknya. Ini mana ada dalam dunia saham atau investasi? Kok bisa ya AGMAC memperlakukan ini?

3. CPS Silver dan CPS Platinum

Ini saja sudah cukup membuktikan ketidak-konsistenan VGMC/AGMAC dalam menjalankan bisnis ini. SH dipaksa beralih ke platina lalu diberi pula opsi kepemilikan perak. Di mana2 itu yang ditawarkan itu adalah saham kepemilikan perusahaan, bukan saham produk. Kalau saya ingin memiliki saham Google, maka yang saya mau itu ya saham kepemilikan atas Google, bukan sahamnya Google Translate, GMail, Google Earth, Google Map, YouTube, Blogger, ataupun produk Google lainnya.

Saya membaca lebih sebagai usaha memperpajang nafas perputaran uang deviden yang sudah macet di CPS Gold.

————————————-

Tergiur fix income (pendapatan tetap), itulah yang menjadi alasan kenapa banyak orang menginvestasikan uangnya pada permainan ini. Dengan target masyarakat kelas menengah ke bawah yang buta dunia investasi lalu dengan mudah saja terperdaya hanya dengan unsur “kepercayaan dan positive thinking“. Dalam dunia ini tidak pernah filosofinya “positive thinking” melulu. Saya selalu beradu argumen dengan mereka yang pro VGMC yang sayangnya selalu tidak tepat sasaran. Saya beragumen menggunakan logika dan pertimbangan yang jelas, saya selalu dijawab dengan alasan2 beraroma ‘jangan berburuk sangka dulu’, ‘kita tunggu saja nanti saat IPO’, atau alasan2 yang lebih berbau ngeles ketimbang menjawab pertanyaan saya tersebut.

Semua pertanyaan yang saya ajukan di postingan saya sebelumnya tidak ada satupun terjawab sampai saat ini.

Sekarang saya bicara dari sisi humanis, skema ponzi adalah realitas masyarakat kita yang serakah (greedy), mau senang tanpa usaha, dan tidak telaah sebelum bertindak. Saya hanya bisa mengurut dada saat membaca keluhan2 korban VGMC yang sudah kesulitan finansial tetapi deviden yang diharapkan tak kunjung datang. Kesulitan finansialnya sendiri tak tanggung2. Saya bahkan mendengar ada yang sampai menggadaikan ladang sawitnya, meminjam dana dari Bank kelewat besar, hingga ada yang memakan biaya haji dan umrah keluarga sendiri.

Tulisan ini tidak mengangkat hal yang baru, karena semua yang saya tulis di postingan sebelumnya sudah kelewat jelas dan berdasar. Yang sampai saat ini masih mengherankan, kenapa masih banyak yang ngotot membela VGMC mati2an sementara dari VGMC sendiri benar2 tidak pernah jelas dan tidak pernah konsisten. Terutama poin konsistensi, ini yang tidak pernah dipegang sama sekali. SH dipaksa top-up terus menerus, dipaksa mengalihkan saham, berkali2 bilang IPO tapi tak jelas prosesnya, dll. Jika dibawa berpikir, adalah aneh sebuah investasi tapi penanam modalnya dibuat ketar-ketir terus, dibuat gelisah, dibuat panik karena ketidak-jelasan.

Ada sebuah ironi yang miris kala terjadi adu argumen antara mereka yang pro-VGMC dan yang kontra-VGMC. Jawaban2 yang diberikan sudah bisa dinilai oleh orang awam sekalipun. Apabila pro-VGMC memberikan argumen, maka argumen seluruhnya mampu dipatahkan dengan analisis yang tepat oleh para kontra-VGMC. Sementara mereka yang pro-VGMC tidak pernah memberikan jawaban2 yang memuaskan atas pertanyaan2 krusial yang diajukan. Umumnya pasti akan ‘ngeyel’ dan ‘ngeles’ semisal ini investasi unsur kepercayaan, kenapa kontra-VGMC ribut terus, atau malah mengalihkan topik tanpa menjawab pertanyaan2 krusial tadi.

Seriously, I’m tired of this s**t!

Saya menulis ini dan mereka yang kontra-VGMC menentang bukan karena apa2 kecuali menghindari banyak orang2 berjatuhan karena penipuan2 yang awalnya diiming2i oleh VGA ambassador VGMC tersebut. Saya pribadi tidak ingin apa2 kecuali tidak lagi melihat berbagai keluhan dan kesedihan karena sudah banyak program2 serupa yang lebih dulu kolaps. Tapi itu tadi, masyarakat tidak suka belajar dari sejarah, dan ini yang terjadi sekarang. Berbulan2 dijanjikan bakal IPO, bakal IPO, bakal IPO, bagaimana mau IPO sementara laporan tahunan saja tak pernah ada. Bagaimana pula orang masih dipaksa ‘positive thinking‘ yang memalsukan itu sementara ‘realistic thinking‘ yang sebenarnya paling diperlukan justru diabaikan begitu saja. Masyarakat kita dipermainkan, diperas, dan dijadikan bahan olok2an karena kurangnya kekritisan pemikiran kita akan berbagai hal, termasuk investasi bodong ini.

Saya hanya bisa klise, tapi tapi saran saya sangat sederhana. Jadilah pribadi yang kritis.

Di saat ada sesuatu hal yang baru tetapi menggiurkan dan sulit dipercaya, seharusnya ditelaah lebih dalam. Dikenali seluk-beluknya terlebih dahulu, apa dan bagaimana proses bisnis beserta resiko2nya. Mana izin bisnisnya, bagaimana prospek ke depannya, dll. Kita harus mencari tahu lebih banyak, digali sumber informasi seluas2nya sebelum bisa percaya.

Mungkin ini tidak ada hubungannya, tapi mental2 seperti ini bisa saja diakibatkan oleh perilaku masyarakat Indonesia yang malas membaca. Membaca itu penting karena dengan membaca kita menjadi mengerti akan suatu hal. Saya rasa membaca Al-Quran tetapi hanya dalam konteks ‘melafazkan’ saja tanpa mengerti isinya hanya akan sia2 saja. Justru membaca Al-Quran lalu dibahas (ditelaah) isinya yang membuat seseorang berilmu dan malah semakin beriman. Setelah digali kebenarannya barulah bisa kita percaya isinya. Tapi ironi seperti ini juga yang banyak terjadi di Indonesia yang mengaku penduduk Muslim terbesar di dunia. Membaca tapi lebih banyak ‘melafazkan’ ketimbang ‘mendalami’ bacaannya itu.

Seperti juga pada VGMC ini, banyak mereka yang terperangkap dan baru menyadari ini penipuan diakibatkan kurangnya pengetahuan pun tidak berinisiatif mencari lebih lanjut. Pun sampai sekarang masih ngeyel dan ngotot sementara argumen2 kritis justru tak didengarkan. Berbisnis dan investasi tidak bisa berjalan dengan otak bebal dan tak kritis. Apalagi kalau memang bisnis berorientasi pada profit, semestinya berhati2 agar profit itu berkejelasan. Toh profit yang jelas membuktikan sehat tidaknya sebuah investasi bukan?

Harapan saya saat ini cuma satu, VGMC, AGMAC, atau berbagai bisnis skema Ponzi lainnya musnah dari negeri ini. Itu saja.

 

Tambahan:

Sejujurnya, saya benar2 jenuh dengan fanatisme sempit tak terdidik ini. Inilah tipikal masyarakat kelas menengah ke bawah kita yang kurang paham investasi kecuali mengharapkan deviden yang tujuannya sangat tidak mulia dengan cara yang tak ada kerja kerasnya sama sekali. Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam bidang budaya atau humanities, ini adalah realita yang menyesakkan saya karena jauh panggang dari api. Membuat masyarakat yang kritis itu memang bukan perkara mudah memang, tapi hanya melalui tulisan seperti ini pula saya bisa berjuang.

Banyak yang bertanya pada saya, siapa lah saya ini? Bukan orang bidang ekonomi dan investasi, saya hanyalah seorang dosen bidang Cultural Studies yang juga penggemar budaya populer (makanya isinya kebanyakan adalah objek budaya populer yang memang merupakan hobi saya). Tapi apa yang saya tulis adalah apa yang terlihat oleh mata kepala saya sendiri. Bolehlah saya dibilang hanya melihat dari luar saja, saya bukan SH, saya tidak ikut di dalamnya tapi sok menganalisis. Saya hanya bisa bilang, tulisan saya ini saja sudah sangat terlambat dibandingkan banyaknya korban2 investasi bodong ini berjatuhan. Lagipula, dari awal tulisan saya memang disasar pada mereka yang awam seperti saya ini, tetapi dengan bahasa yang sederhana dan bisa mudah dimengerti siapapun. Mungkin karena itu pula tulisan saya soal VGMC itu Penipuan menjadi sangat2 populer dan direspon.

Mungkin ini pesan saya yang perlu disimak dengan baik2:
Kenapa masih percaya pada hal2 yang kontradiktif? Kenapa masih ‘dipaksa’ ber-positive thinking sementara realita yang terjadi berkata sebaliknya? Kalau benar kita ini terdidik, semestinya keterdidikan kita mampu mempertanyakan dan mempermasalahkan ketidakpastian dan ketidakkonsistenan yang terjadi, bukan?

Catatan:
Awal mula saya menulis tentang VGMC dan skema Ponzi berawal dari tulisan saya yang berjudul “Investasi Emas?” yang aslinya dipublikasikan di notes FB saya. Berikut ini dua tulisan sebelumnya termasuk “VGMC itu Penipuan”

Investasi Emas?: https://edriasandika.wordpress.com/2012/09/07/investasi-emas/
VGMC itu Penipuan: https://edriasandika.wordpress.com/2012/10/06/vgmc-itu-penipuan/

Advertisements

Gangnam Style dan Dunia Kita

Barangkali isu kiamat atau bencana tahun 2012 yang sejak tiga tahun terakhir didengungkan hanya sekedar isu. Namun 2012 memberikan sebuah fenomena budaya populer yang efeknya jauh dari kata kiamat atau kehancuran. Seorang penyanyi bertubuh tambun berhasil menaklukkan dunia lewat lagu dan goyang yang sangat mudah dicerna siapapun. Dari hanya sekedar lagu dengan video musik, “Gangnam Style” telah berubah menjadi fenomena yang mencengangkan sepanjang tahun 2012 ini.

Gangnam Style adalah lagu yang dinyanyikan oleh Psy, dan tidak ada yang aneh dari lagu tersebut. Lagu rap dengan iringan irama techno yang repetitif dan catchy (mudah diingat) merupakan formula yang sudah banyak dipakai di beberapa lagu lainnya. Yang membuat Gangnam Style menjadi fenomenal adalah berkat musik video yang berisi goyangan ala menunggang kuda dan berbagai pose-pose nyeleneh lainnya. Kombinasi musik, goyangan, dan video musik, Gangnam Style telah menular ke seluruh dunia.

Psy harus berterima kasih pada YouTube yang dengan mudah diakses dimanapun di seluruh dunia. Saat tulisan ini dibuat, jumlah penonton yang menyaksikan video musik Gangnam Style di YouTube telah mencapai 900 juta lebih penonton dan masih terus berjalan. Gangnam Style telah menjadi video musik yang paling banyak ditonton mengalahkan video musik “Baby” oleh Justin Bieber pada tanggal 24 November 2012 kemarin. Gangnam Style sudah diparodikan berkali-kali, dan dijadikan alat flash mob (pertunjukan dengan melibatkan banyak orang). Psy sendiri sudah menyanyikan lagu tersebut di berbagai acara-acara musik maupun konser-konser di seluruh dunia.

Menurut pengakuan Psy sendiri, filosofi lagu Gangnam Style sendiri sangatlah sederhana: dress classy, dance cheesy (berpenampilan dengan mahal, bergoyang dengan murahan). Perumpamaan yang sangat kontras ini sesuai dengan konten video musiknya yang memang berisikan narasi-narasi pribadi berpakaian elit tetapi bergoyang dengan sangat leceh. Dimulai dari goyangan menunggang kuda, goyangan pinggul, hingga gerakan-gerakan lainnya yang cenderung vulgar dan tidak sopan untuk dideskripsikan.

Kekuatan Gangnam Style sendiri memang terletak pada kontennya yang boleh dibilang asal-asalan tersebut. Penyanyi yang fisiknya tidak seperti anggota boyband, lirik lagu yang sama sekali tidak dimengerti oleh mereka yang tidak tahu bahasa Korea, goyangan yang bodoh dan menggelikan, hingga segala keanehan-keanehan yang ditawarkan video musiknya itu sendiri. Tapi segala kekacauan inilah yang membuat Gangnam Style menjadi sangat terkenal dan berubah menjadi fenomena yang mencengangkan siapapun di dunia. Sulit untuk tidak tersenyum apalagi tertawa menyaksikan video musiknya tersebut.

Dalam pembacaan ideologis, Gangnam Style menjadi corong propaganda Korea Selatan dalam menanamkan pengaruhnya ke seluruh dunia lewat fitur musik dan budaya populer. Apabila gelombang K-Pop sebelumnya lebih bersifat sektoral (terbatas oleh wilayah tertentu), berkat Gangnam Style, seluruh dunia terhipnotis dan meningkatkan keingintahuan terhadap K-Pop. Gangnam Style menjadi alat ideologi gratis tentang dunia Korea. Menurut filsuf Slavoj Zizek sendiri, Gangnam Style adalah murni fenomena ideologis dari kapitalisme. Betapa tidak, lagu Gangnam Style menjadi sangat laris diperjualbelikan secara digital dan menjadi salah satu lagu K-Pop yang mengisi berbagai tangga lagu dunia.

Sebaliknya Gangnam Style adalah semacam tamparan terhadap realita dunia yang terjadi saat ini. Dunia yang berjalan dengan rutinitas yang repetitif seperti irama lagunya. Dan filosofinya tadi menggambarkan wajah memalukan dunia kita lewat cara yang humoris. Berapa banyak sekarang mereka yang berpakaian classy tapi berperilaku cheesy terjadi di sekitar kita? Gangnam Style adalah sebuah parodi kehidupan kita yang selalu sibuk berurusan dengan imaji-imaji penampilan tapi bertingkah kontras dengan menunjukkan perilaku-perilaku memalukan. Apabila dihubungkan dengan apa yang terjadi di Indonesia, kita seperti menyaksikan berbagai oknum dan pelaku tertentu ber-Gangnam Style-ria dengan kehidupan banyak orang. Entah bagaimana pula dengan yang ada di belahan dunia lainnya.

Gangnam Style adalah fenomena yang unik tetapi tidaklah terlalu mengherankan. Batas wilayah, bahasa, hingga budaya, mampu dilampaui dengan mudah hanya dalam hitungan tiga menitan saja. Di tahun ’90-an, kita sudah pernah mengalami hal serupa meskipun skalanya tidak sebesar Gangnam Style ini. Saat itu sangat populer lagu Macarena yang liriknya tidak terlalu dimengerti tetapi memiliki irama yang catchy dan goyangan yang sangat mudah ditiru. Yang membedakannya adalah saat itu penggunaan internet belum seluas sekarang dan belum ada media YouTube. Tapi Macarena menawarkan formula yang sama dengan Gangnam Style.

Untuk Gangnam Style sendiri, goyangannya bisa dipraktekkan dengan sekali melihat saja. Dari segi liriknya saja yang mampu diingat banyak orang hanya “Oppa Gangnam Style” dan “Heeeyyy Sexy Lady”. Tapi itu lebih dari cukup untuk membuatnya populer. Kepopuleran berkat viral marketing (menjalar) seperti virus membuat banyak orang di seluruh dunia mengenal Gangnam Style ini.

Sekarang zamannya internet. Dalam skala lokal saja kita sudah berkali-kali disuguhi fenomena instan dari internet seperti Sinta-Jojo hingga Briptu Norman Kamaru. Tetapi Gangnam Style adalah fenomena parodi kehidupan kita di dunia yang sibuk merumit-rumitkan banyak hal. Entah demi menjaga imaji penampilan, atau entah harus berhadapan dengan realita yang keras, seorang Psy mengajarkan kita bahwa ujung-ujungnya kita bisa saja akan melakukan hal yang memalukan.

Pada akhirnya kita ditaklukkan oleh Gangnam Style yang secara kasar dan sarkas tengah meledek dunia kita saat ini. Bisa saja ini hanya fenomena sementara dan berganti fenomena-fenomena lainnya di masa depan. Namun Gangnam Style tidak lagi dibaca sebagai sebuah lagu dengan video musiknya yang berantakan itu, melainkan telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan kita. Sejarah yang fenomenal.

(Ditulis tanggal 13 Desember 2012, dimuat di harian Padang Ekspres 6 Januari 2013)

Catatan: Saat ini Gangnam Style sudah ditonton lebih dari 1 milyar penonton di YouTube.

2012 in Review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 3,700 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 6 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

VGMC Itu Penipuan!

Sejak tanggal 1 Oktober kemarin, begini respon saya soal VGMC:

Sekarang VGMC saja seenaknya ingin mengalihkan ke Platinum, lho padahal tadinya emas kan? Namanya saja Virgin Gold? Tunggu dulu, pindah ke British Virgin Island? Apa2an ini? Tidak konsisten antara nama dan bisnisnya nih? Emas apa platinum? Omong kosong apaan ini?

Saya bukan anggota VGMC, saya juga bukan ahli ekonomi, ahli hukum, bukan pula ahli emas, atau ahli investasi. Tapi saya berusaha melihat ini dari kacamata humanis, dari kacamata seorang manusia biasa yang peduli dengan situasi seperti sekarang ini. Maaf jika saja tulisan seperti ini terkesan terlambat, tetapi setidaknya saya tidak sendiri. Sudah banyak tulisan2 dari mereka yang ahli berkecimpung di dunianya yang sudah mati2an menulis betapa berbahayanya program2 investasi tidak jelas seperti VGMC, ECMC, Koperasi Langit Biru, dan sebangsanya.

Virgin Gold Mining Corporation, mengaku adalah sebuah perusahaan tambang emas berbasis di Panama. Mereka menawarkan saham kepemilikan emas (bukan saham kepemilikan perusahaan seperti umumnya). Mereka menawarkan investasi kepada masyarakat umum. Terdengar ribet, tapi mudah2an tautan (link) yang saya berikan di bawah bisa membantu anda2 dalam memahami cara kerja VGMC.

Saya akan mengulang pertanyaan yang sama dengan yang saya tulis sebelumnya. Karena pertanyaan saya tersebut sangat awam tetapi krusial untuk legitimasi maupun keabsahan bisnis VGMC itu sendiri.

1. Di mana tambang emasnya?
Sampai detik ini saya tidak menemukan satu referensi pun mengenai di mana letak tambang emas milik VGMC. Betul, penjelasan di situs resminya sendiri tidak ada alamat lengkap, lokasi, peta, aktivitas, maupun koordinat letak pertambangan emas yang dimiliki perusahaan. Kalaupun katanya VGMC bekerja sama dengan perusahaan lain pun, tidak ada nama perusahaan yang bekerja sama (joint) dengan VGMC sama sekali.

2. Siapa orang penting di balik manajemennya?
Sungguh lucu buat saya dan tentunya tidak lucu buat mereka yang sudah ikut. Saya tidak menemukan satu foto ataupun profil pribadi orang2 penting di balik VGMC. Tidak ada foto dewan direksi, pimpinan, ataupun pengelola dari perusahaan ini. Berikan saya nama dan profil lengkap, minimal daftar riwayat hidup deh.

3. Kalau VGMC adalah perusahaan ternama, kenapa tidak ada di Wikipedia?
Ini mungkin kurang relevan, tetapi sumber yang bisa diedit seenak perut itu adalah Wikipedia. Perusahaan sekurang ajar Freeport saja ada profil perusahaan dan pertambangannya dengan sangat jelas. Kalau mau, kenapa tidak ada orang VGMC yang bela2in membuat artikel perusahaan mereka sendiri? Padahal Wikipedia gratis toh.

4. Mana laporan tahunannya?
Ini yang menurut saya super fatal. Laporan keuangan adalah bukti perusahaan beraktivitas setiap tahunnya. Tanpa laporan keuangan mustahil perusahaan bisa jalan. Bahkan usaha skala kecil saja tetap butuh pembukuan dan pencatatan hingga di akhir tahun bisa dilihat perkembangannya. Wah, selama ini data keuangannya berjalan bak siluman dong?

5. Bisnis VGMC adalah bisnis kepercayaan?
Waduh, ini yang saya lebih pusing lagi. Betul dalam berbisnis harus ada unsur percaya, tetapi kepercayaan di sini baru bisa diraih kalau semuanya terlihat jelas dan terang benderang kan? Saya saja baru bisa percaya bahwa perusahaan itu sehat kalau produknya disukai di pasar, manajemennya terkenal (sering masuk televisi aja deh minimal), terdaftar di bursa saham, dll. Maksud saya, ngasih deviden2 seperti itu bukan unsur kepercayaan saja. Bahkan darimana deviden itu berasal juga sama tidak terjawabnya (jawabannya sih gampang, dari perputaran uang investor yang baru masuk).

Jawab dulu empat pertanyaan saya di atas baru tanya kepercayaan saya!

6. Kenapa tidak terdaftar di Bappepam?
Kalau yang ini, sebaiknya kita tahu sama tahu saja deh.

7. VGMC itu ada atau tidak sih?
Eeeeenggg………

Oh ya, tulisan saya ini lagi2 saya tegaskan hanya pandangan umum yang awam. Kalau ada yang beranggapan saya menjelek2kan VGMC, saya sirik, iri, dan sebangsanya pada VGMC, saya menebarkan keresahan ke semua pemilik saham VGMC, saya bisa bilang, saya bertanggung jawab dengan apa yang saya tulis di sini.

Saya sampai saat ini tetap menganggap VGMC penipuan karena 4 pertanyaan awal saya di atas tidak terjawab sampai sekarang. Kalau mau skalanya diperlebar, maka hasilnya pasti lebih gila2an lagi. Pendapatan dengan keuntungan tetap tanpa perubahan ini di dalam Islam saja sudah dianggap RIBA. Tidak masuk akal perusahaan (katanya sebonafit) VGMC lebih memilih mengambil dana dari masyarakat daripada meminjam ke Bank yang resikonya jauh lebih kecil dan lebih aman.

Saya menulis ini dengan perasaan sangat prihatin. Saya berasal dari Sumatera Barat, banyak yang sudah masuk ke VGMC secara buta dan tidak menyadari bahaya2 yang akan mereka hadapi dalam penipuan skema Ponzi ini. Apabila diingatkan, jawabannya selalu sama.

“Uangnya kan uang kami sendiri, kenapa anda yang heboh?”
“Penonton boleh ribut, pemain sih jalan terus!”
“Kalau tidak yakin dan percaya, tidak usah ganggu kami!”

Yang ironis, semua yang menentang VGMC memberikan fakta2 akurat dan sangat logis. Tapi mungkin seperti yang ditulis oleh seseorang di blog “ajarilah”, mentalnya sudah penjudi jadi sulit menerima kebenaran. Padahal bisnis (baca: penipuan) ini sangat beresiko tinggi. Kabarnya banyak yang berhutang ke Bank, menggadaikan harta, demi emas2 yang sifatnya sangatlah virtual alias tidak pernah ada.

Yang paling saya marahkan, betul saya sangat marah dengan hal ini, adalah dengan membawa2 nama Tuhan, berdoa2, berubah menjadi alim secara mendadak baik ketika VGMC masih lancar maupun ketika sudah mulai macet seperti sekarang ini. Sudah banyak yang memprediksi VGMC akan kolaps. Saat2 seperti ini agama apapun tidak akan bisa menyelamatkan uang yang sudah melayang ditipu mereka yang tidak pernah jelas keberadaannya. Saya marah karena agama selalu muncul paling akhir, ketika semua sudah melayang. Bismillah dan doa tidak akan menyelamatkan kalian!

Saya wajib memberitahukan ini, saya merasa terpanggil. Tulisan saya sebelumnya masih bersifat tidak serius. Tapi kali ini dengan fakta bahwa VGMC sekarang sudah bermasalah sementara masih saja banyak yang percaya VGMC aman2 saja, dan berusaha mencari mangsa lainnya, saya perlu tegaskan.

VGMC ITU PENIPUAN, BUKAN BISNIS, BUKAN DAGANG EMAS, BUKAN  INVESTASI, TAPI PENIPUAN! PENIPUAN YANG NYATA DAN JELAS!

Sekali lagi, saya tidak menjelek2an VGMC karena toh VGMC sendiri sudah sangat jelek dari sananya. Tidak ada kredibilitas, kejelasan, keterbukaan, dan hanya bermodalkan kepercayaan (baca: tipu daya). Segala hal yang berkaitan dengan uang, apalagi dalam jumlahnya yang besar haruslah dituntut transparansi yang berdasar dan berkekuatan hukum.

Saya kutip status pak Rahmat Febrianto di Facebook:

“Saya kedatangan seorang pemilik restoran nasi Padang. Ia menawarkan saham ke saya. Ia membolehkan saya memilih saham-saham yang ada: rendang, ayam goreng, ayam pop, gulai tunjang, gulai babek, gulai ciput, atau teh talua. Saham manakah yang akan saya pilih?
Itulah yang unik di VGMC yang menjual saham produk bukan saham perusahaan. **Masih mau juga dibodohi**”

Dari analogi sederhana seperti itu saja sudah pasti siapapun yang berakal sehat dan mau berpikir bisa mempertanyakan logika kerja VGMC tersebut.

Sekarang saya kembalikan pada mereka2 yang terlanjur menanam uang di sana. Sebaiknya relakan saja uang tersebut melayang. Tidak usah bawa2 nama agama dan doa2, jangan harap Tuhan mau membantu sebuah kebodohan. Saya percaya mengikuti program VGMC dan sejenis adalah kebodohan karena otak tidak dipakai sebagaimana mestinya. Apalagi hasil VGMC adalah riba, jadi percuma saja. Ini adalah hasil ketamakan, kerakusan, dan kemalasan dalam berusaha.

Tautan:
http://www.kompasiana.com/rfebrianto
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/10/05/ada-apa-dengan-vgmc-493244.html
http://ajarilah.wordpress.com/
http://www.panamaforum.com/business-panama/39979-virgin-gold-mining-corporation-scam.html

Investasi Emas?

Beberapa bulan lalu saya tertegun membaca surat kabar lokal yang (entah iklan, entah apaan) menghadirkan profil acara Virgin Gold Mining Corporation di kota Padang. Acaranya sih tak penting tapi bunyi-bunyi investasinya ‘kelewat’ menggiurkan. Saya yakin bagi yang berduit pasti banyak yang menginvestasikan uang mereka di situ.

Belakangan saya dengar bisnis investasi serupa bernama ECMC (East Cape Mining Corporation) sudah terbukti bisnis tipu menipu dengan perputaran uang yang macet, dan saya membaca langsung di grup FB-nya kalau banyak yang berkeluh kesah, mencaci maki, menuntut keadlian, karena sudah tertipu habis-habisan. Rata-rata banyak yang (terutama bermental filistin) berdoa-doa, meminta laknat Tuhan, berharap hukum karma, dan sebangsanya entah agar uang kembali atau menginginkan ‘leader’ yang menipu mereka mendapat bencana. Saya cuma bisa geleng-geleng karena di mana-mana yang namanya keteledoran sendiri ya agama akan gagal menghibur. Leceh jadinya agama dijadikan excuse untuk hal-hal yang sebenarnya akibat manusia sendiri.

Tentang VGMC, saya jelas sangat terganggu dengan jor-jorannya iming-iming menggiurkan yang ditawarkan. Rasanya dari dulu sudah banyak metode-metode sejenis yang ujung-ujungnya menipu sudah terjadi sebelumnya di Indonesia (dan Malaysia, karena memang rata-rata orang serumpun yang pemalas, serakah, dan tak cerdas, gampang tertipu). Tengok saja Swisscash, speedline, dan lain-lain. Dan iklannya banyak bertaburan di segala sudut. Padahal metode VGMC ini terang-terangan merupakan permainan uang dengan skema Ponzi (silahkan cek Wikipedia apa itu skema Ponzi, dan jangan kaget kalau rada mirip-mirip dengan MLM, apalagi kalau sudah ketemu pula dengan skema piramid). Teman dekat saya pernah menjadi korban penipuan metode ini.

Pertanyaan saya soal VGMC adalah sebagai berikut:

– Di mana tambang emasnya beroperasi? Mana foto-foto operasional? Mana data-data produksinya?

– Siapa-siapa orang penting di balik manajemennya? Mana foto-foto mereka?

– Mana laporan keuangan tahunannya?

– Mana perusahaan-perusahaan lain yang bekerjasama dengannya?

– Kenapa mengambil dana dari masyarakat kalau meminjam dari Bank lebih aman?

– Kenapa di Panama dan Dubai? Takut pajak? Kalau di Indonesia yang berinvestasi tetap kena pajak dong?

– Kenapa tidak terdaftar di Bapepam?

– Kenapa tidak terdaftar di berbagai bursa saham manapun? 2015? Kenapa tidak dari dulu?

– Keuntungan tetap apanya bukan RIBA itu?

– Kalau VGMC perusahaan ternama, kok tidak ada profilnya minimal di Wikipedia?

Setelah bolak-balik buka-buka situs tentang VGMC, scam, moneygame, ECMC, tidak ada satupun jawaban yang memuaskan saya soal ini. Silahkan buka referensi-referensi saya di bawah untuk lebih detil. Yang jelas saya benar-benar mendapat pelajaran berharga dan sedikit banyak belajar ilmu ekonomi dan investasi karena hal ini. Saya merasa bertanggung jawab perlu berbagi informasi ini.

Kenapa saya menganggap VGMC itu penipuan sebenarnya sederhana saja. Kalau saya mau investasi emas, maka saya menginginkan emasnya langsung, bukan ‘pernyatan’ saya punya emas. Saya akan beli ke toko emas langsung, kalau perlu bongkahan-bongkahan emas besar itu yang saya beli kalau saya punya uang banyak (baca: modal). Saya pusing membuka situs VGMC yang kontradiktif antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggrisnya.

Bahasa Inggrisnya:

There is no reason to regret the fact that Virgin Gold has yet to own a gold mine outright, even after a decade in this business

Versi Bahasa Indonesianya:

Tidak ada alasan untuk menyesali fakta bahwa Virgin Gold  perlu memiliki tambang emas sendiri, bahkan setelah satu dekade berkecimpung dalam bisnis ini

Kok jauh ya artinya? Tidak percaya silahkan buka:

http://www.vgmc.com/operations_gold_mining.aspx

dan baca dulu versi bahasa Inggris-nya lalu pilih opsi Bahasa Indonesia di kanan atas situsnya.

Bahkan, kalimat yang saya kutip di atas sangatlah bermasalah mengingat katanya perusahaan ini adalah perusahaan tambang sementara katanya ‘belum memiliki pertambangan sendiri’. Yang konyol, deskripsi mengenai tambang di Afrika dan Amerika Selatan-nya sangat membingungkan dan tidak jelas. Bukannya memberikan foto-foto atau video operasional tambang lengkap dengan data-data penting, tapi malah menjelaskan kesulitan yang harus ditempuh. Kalau saya jadi investor itu sudah cukup buat saya untuk tidak berinvestasi di situ. Kalaupun tulisan saya ini tidak memuaskan, silahkan merujuk ke referensi yang sudah saya tuliskan di bawah.

Apa tujuan saya menulis ini? Menjelek-jelekkan VGMC?

Tidak, tujuan saya hanya memberi peringatan bagi siapapun yang terkoneksi dengan saya. Seperti yang sering digembar-gemborkan oleh orang-orang VGMC sendiri: kalau tidak yakin tidak usah bergabung. Saya juga tidak melarang orang untuk bergabung, tapi saya hanya merasa terpanggil untuk menulis tentang ini. Bisnis seperti ini tidak pernah bertahan lebih dari lima tahun. ECMC saja yang baru satu tahun sudah kolaps sekarang. Apalagi ini berbasis penipuan yang membahayakan siapapun.

Jika ada yang menjadi anggota VGMC dan marah karena tulisan saya ini maka mereka tak pantas marah. Yang boleh marah dengan tulisan saya ini adalah perusahaan VGMC langsung dan memberikan bukti-bukti jelas untuk membantah tulisan saya dan banyak tulisan lain yang menjadi referensi saya di bawah. Saya hanya mengulang-ulang dengan bahasa saya sendiri apa yang dipermasalahkan oleh yang lainnya. Seorang pedagang dijelek-jelekkan oleh seseorang di depan pembelinya maka si pedagang lah yang harus marah, bukan pembelinya (dikutip dari 2ears2eyes).

Sebagai penutup, saya memberikan kesimpulan sederhana. Keberhasilan itu adalah hasil usaha dan kerja keras, ketekunan, dan kesabaran. Cara-cara instan selalu terbukti tidak menghasilkan. Kontes bakat instan, produk makanan instan, apalagi ingin kaya secara instan tidak pernah menghasilkan hal-hal yang baik. Sejarah sudah membuktikan.

Referensi:

http://waspada-investasi.bapepam.go.id/

http://outletdinar.com/satgas-waspada-investasi-vgmc-dan-ecmc-tidak-mempunyai-izin-usaha

http://wikusuryomurti.com/money-game-dan-skema-ponzi-berkedok-investasi/

http://2eyes2ears.blogspot.com/2012/06/virgin-gold-mines-corporation-segera.html

http://2eyes2ears.blogspot.com/2012/06/ecmc-sama-saja-segera-keluar.html

http://febiarifstory.blogspot.com/2012/06/model-bisnis-ponzi-vgmc-history-repeat.html

http://www.facebook.com/groups/395735320487686/

http://ajarilah.wordpress.com/

http://www.panamaforum.com/business-panama/39979-virgin-gold-mining-corporation-scam.html

Hilarious Post-Modernistic Websites

Why so serious? -Joker-

Internet contains everything, I mean, “everything”. The following websites are famous for their hilarious, imaginative, smart, sometimes “cross the line”, post-modernistic contents they have.

1. 9Gag

Your one-stop destination to see many jokes, gags, internet memes, stupidities, over the top innovations, inspiring contents, and many more through various photos and images. Use it with extreme caution or you will lose your soul. I have warned you!

2. Funny Exam

Do you want to have a big laugh seeing stupidities from exam experiences. This is website for you.

3. E-mails from an Asshole

This website contains collection of electronic mails from various topics, mostly from costumer’s rage over something. The site only in plain texts, but the level of its hilariousness is impressive.

4. Lamebook

Collections of shameful and lame Facebook stupidities here, and social network stupidities are everywhere though.

5. Uncyclopedia

Do not trust this website if you want to find free encyclopedia since this is the polar opposite of Wikipedia. Everything here is just complete contradictions from what you have known.

6. Weekly World News

When a hoax being treated seriously? All the news are real, or are they?

I will update this post if there are new websites can be added here, and happy laughing.

Latah Boyband- Girlband Korea di Indonesia

Belakangan kita mulai menemukan booming kelompok boyband dan girlband bercita rasa Korea di tanah air, terutama melalui publikasi media televisi. Suksesnya pengaruh K-Pop ke dalam musik Indonesia menciptakan tren dan diikuti banyak orang, terutama dari kawula muda atau remaja. Melihat fenomena K-Pop dan respon masyarakat terhadapnya sesungguhnya sangat menarik untuk disimak.

Kehadiran boyband dan girlband bercita rasa Korea di negeri ini semakin ramai, terutama yang ditayangkan di TV. Pengaruh K-Pop sukses masuk ke dalam musik Indonesia dan menjadi tren yang diminati banyak orang, khususnya kawula muda atau remaja. Fenomena K-Pop ini pun semakin menarik untuk diamati dan direspon sebagai bagian dari budaya pop.

Mungkin sudah perlu memaklumi untuk kesekian kalinya fenomena bernama latah, ikut-ikutan, jika tidak mau dibilang meniru atau menjiplak, muncul di media hiburan Indonesia. Semenjak sinetron religius, kontes bakat ber-sms, film horor tapi isinya sensualitas saja, hingga komedi yang menjerumuskan seseorang ke gabus. Kita selalu disuguhkan hal yang sama berkali-kali. Bahkan yang terbaru di televisi saat ini yakni program trivial tentang keunikan-keunikan tertentu dalam angka. Jika ada suatu tren disukai banyak orang, maka ramai-ramai yang ‘mirip’ bermunculan. Entah itu acara televisi, aliran musik, film, produk, gaya berpakaian, dan sebagainya.

Khusus fenomena boyband-girlband ini, memang bukanlah hal baru di negeri ini. Sejak era ’90-an kita sudah disuguhkan Backstreet Boys, Boyzone, Spice Girls, New Kids on the Block, Take That, sampai kepada Westlife. Lalu orientasi selera seperti ini sedikit beralih pada awal tahun 2000-an dengan kehadiran F4 yang populer dengan lagu-lagu dan serial Meteor Garden-nya. Tetapi yang mulai menunjukkan hegemoni musik pop akhir-akhir ini adalah para grup boyband dan girlband asal negeri ginseng. Sekarang kita tidak asing dengan nama-nama seperti Super Junior, Girls’ Generation (So Nyeo Shi Dae), Wonder Girls, Shinee, 2NE1, DBSK, Kara,  dan masih banyak lagi yang bisa saya sebutkan.

Terima kasih pada media internet bernama YouTube, semua itu bisa dinikmati dengan mudah dan gratis. K-Pop pun mulai merajai pasar musik Asia dan tidak terkecuali di Indonesia.  YouTube berhasil membuat mereka populer bahkan sampai dibuat saluran khusus K-Pop berkat popularitas tersebut. Pengaruh K-Pop menciptakan tren yang saat ini cukup berpengaruh di Asia, terutama di Indonesia sendiri. Pengaruhnya bisa terasa hingga seorang penyanyi dangdut yang baru populer bernama Ayu Ting Ting berdandan ala Korea demi mengikuti tren yang tidak berhubungan dengan genre musiknya sendiri.

Tentu saja bisa ditebak arah selanjutnya, para penguasa pasar musik dalam negeri mulai membidik selera tersebut dengan menciptakan girlband dan boyband sejenis, tetapi produk lokal. Maka muncul SM*SH, 7 Icons, Cherrybelle, Super Girlies, Max5 , Treeji , XOIX , Blink, Dragon Boyz. Saya yakin girband dan boyband lain akan segera muncul. Bagi penggemar K-Pop sejati, jelas kehadiran boyband-girlband lokal tersebut akan ditentang habis-habisan. Namun sepertinya produk lokal ini akan hadir terus, terlepas dari kehadiran mereka akibat kepopuleran grup-grup asal Korea, jika tidak mau dianggap ‘tiruan’, ‘KW’, ‘jiplakan’, dan atribut negatif peniruan lainnya.

Sesungguhnya cara mereka hadir dalam musik Indonesia sudah cukup strategis. Penggunaan jargon ‘cenat-cenut’ dari SM*SH, ‘ga ga ga ga kuat’-nya 7 Icons sampai ‘really really love you’-nya Cherrybelle bisa membuat siapapun pendengarnya mengulang-ngulang kata dalam lirik lagu mereka. Entah bermaksud repetitif, atau ingin menghipnotis, boyband dan girlband tersebut berusaha mencari jati diri mereka sendiri dalam musik tanah air.

Tapi lagi-lagi masalah jati diri atau identitas yang akan selalu dipermasalahkan kepada mereka. Suka atau tidak, kehadiran mereka dalam blantika musik Indonesia adalah berkat populernya boyband girlband K-Pop tersebut. Sehingga pandangan pragmatis dan sinis terhadap mereka karena mereka hadir disebabkan oleh latah, dan hobi suka meniru, menjadi pembenaran yang nyata. Kehadiran mereka sekaligus membuat batas antara ‘terinspirasi’ dengan ‘meniru’ menjadi sama saja dan tidak pernah jelas.

Tapi mencela dan antipati terhadap kehadiran mereka justru membuat mereka tambah populer. Kontroversi menciptakan keuntungan dengan sendirinya. Memang menjadi ironi yang menggelikan melihat fenomena ini. Penggemar musik mulai melirik K-Pop, sedikit atau banyak, karena jenuh dengan monotonnya musik dalam negeri atau musik mancanegara lainnya. Terlepas dari ganteng-cantiknya personel grup tersebut, keren tidaknya goyangan mereka,  irama musik dan lirik yang gampang dicerna, penggemar ini menikmati K-Pop karena kejenuhan tersebut. Sayangnya, respon penguasa industri musik dalam negeri menganggap ini hanya sebagai efek domino yang juga harus dicoba.

Etos kerja boyband dan girlband Korea jelas berbeda. Mereka dilatih bertahun-tahun sebelum hadir dalam dunia hiburan. Mereka dilatih dengan keras dan disiplin sehingga mereka benar-benar siap tampil di depan publik penikmat musik pop. Sementara yang hadir dari produk lokal adalah dengan formula ikut-ikutan tadi, tanpa proses sejenis. Kapitalisme Korea sukses dijalankan sehingga dikonsumsi tidak hanya di Korea saja, tapi hampir di seluruh Asia. Grup vokal berjenis boyband girlband tidak asing dalam industri musik, tetapi mereka bisa menciptakan citarasanya sendiri. Sementara di Indonesia, kita berhadapan dengan sikap ‘sinis tapi suka’ dengan produk sejenis tanpa jatidiri. Lagipula grup-grup asal Korea tersebut juga banyak berkiblat pada pemusik dari barat, kenapa kita tidak bisa?

Sesungguhnya grup-grup musik lokal itu berprospek cerah, jika saja pandangan-pandangan sinis dan pragmatis tadi bisa dijawab dengan kemampuan dan kesan yang berbeda dari grup-grup asal Korea. Tidak perlu membawa isu negara dan budaya di sini, tapi cukup tampilkan identitas yang berbeda. Sehingga kata-kata ‘terinspirasi’ tidak disalahgunakan dan menjadi pembenaran. Tidak perlu pula harus membuat pelatihan sejenis jika memang tidak cocok. Jika waktu tren ini hadir yang menjadi permasalahan, dari dulu kita sudah punya grup-grup sejenis seperti ME Voices, Cool Colors, Cowboy, atau AB Three. Tapi kemasan penyajianlah yang sekarang menentukan ketimbang kemampuan olah vokal saja. Sekarang zamannya visual, menikmati musik tidak sekedar suara merdu dan lirik manis, tetapi juga wajah-wajah ganteng dan cantik dibarengi gerakan koreografi yang keren dan energetik. Semua didapatkan dari grup-grup asal Korea tersebut.

Jika saja kita bisa mengolah tren dengan lebih baik, kita akan selalu menjadi tuan rumah di negeri sendiri terhadap budaya yang kita ciptakan atau kita adaptasi dari budaya lainnya.

 

(Artikel dimuat di Padang Ekpres tanggal 8 Januari 2012)

Menjual Galau

Menurut KBBI daring (dalam jaringan atau online), kata “galau” berarti kacau tidak karuan di dalam pikiran. Kata galau akhir-akhir ini sangatlah populer terutama di kalangan anak muda berkat penyedia jasa telekomunikasi seluler aktif mengiklankan produk mereka dengan penggunaan kata tersebut maupun konotasi dari kata itu sendiri. Secara tidak langsung kata galau telah begitu dekat dengan anak muda yang sedang memikirkan permasalahan yang dihadapinya, dalam hal ini, masalah percintaan. Tidak salah memang, karena telepon seluler adalah benda terdekat yang dimiliki manusia di era (pos)-modern ini yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Telepon seluler atau HP (dari kata handphone) telah menjadi benda yang sangat vital dalam komunikasi tanpa tatap muka baik berupa suara, pesan tertulis, bahkan daring melalui berbagai jejaring sosial yang ada.

Iklan-iklan penyedia jasa seluler saat ini bertumpu pada narasi percintaan anak muda. Biasanya dimulai dengan pertengkaran, lalu merasa galau dan mencari tempat mengadu, dan akhirnya usaha tersebut menemukan solusi dengan fitur-fitur menarik yang ditawarkan. Narasi tersebut diakhiri dengan penyelesaian masalah maupun berlanjut pada iklan edisi berikutnya. Ada iklan yang terkesan sedih atau suram, ada pula yang dibahasakan secara komedi dan berlebihan. Formula masalah dengan solusi merupakan hal yang sangat baku dan sering dipakai pada banyak iklan-iklan media visual.

Sesungguhnya ini merupakan fenomena yang tidak mengherankan karena kata galau sudah sangat familiar dalam Bahasa Indonesia tidak hanya dalam konteks percintaan saja. Sekarang kita sudah maklum apabila kita mendengar kata galau pada seseorang berarti orang tersebut sedang bermasalah dengan perasaannya. Pemahaman yang demikian mungkin menjadi pertimbangan penyedia jasa seluler menargetkan sasaran iklan untuk segmentasi anak muda yang jumlahnya dalam pasaran tidaklah sedikit. Apalagi dengan zaman yang sudah berubah, saat ini kita secara dominan menghabiskan pulsa selain untuk komunikasi secara umum juga untuk yang berhubungan dengan masalah percintaan. Dari panggilan suara, pesan singkat, ataupun akses jejaring sosial via telepon seluler, semua dihabiskan demi memberikan ketenangan akan masalah hati yang diceritakan tengah galau.

Tapi kita tentu tidak lupa dengan bahasa iklan yang persuasif karena dari dulu metode iklan penyedia jasa seluler selalu sama. Sejak zaman persaingan “sekian rupiah per detik”, “bisa internet-an”, gratis ini gratis itu”, “paling murah dari yang lain”, semua hanya menawarkan gimmick (gaya-gayaan) yang selalu dipatahkan dengan “syarat dan ketentuan berlaku”. Kali ini dengan memanfaatkan kata galau dengan target “anak muda yang galau dalam cinta” jelas dibahasakan dengan maksud mengkonsumsi produk tertentu sebanyak-banyaknya. Semua kegalauan yang terjadi bisa teratasi dengan berkomunikasi secara jor-joran (abusive). Dan ironisnya, formulanya pun gampang ditebak. Hilang galau yang satu, maka galau selanjutnya yang akan datang menghampiri. Dengan kata lain, konsumsi produk tersebut sekali lagi dan begitu seterusnya.

Sebenarnya ini kembali ke konsumen itu sendiri, dalam konteks ini, anak muda. Galau menjadi semacam tren pembenaran atas lemahnya diri dalam menyelesaikan masalah. Jangan salahkan penyedia jasa seluler yang memang sedang berdagang, tetapi coba kembalikan ke refleksi diri sendiri dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi. Iklan-iklan tersebut entah menawarkan solusi atas kegalauan, atau jangan-jangan memang beginilah anak muda di dekade kedua abad ke-21 ini.

Meskipun narasi iklan-iklan tersebut kadang diperlihatkan dengan humoris, ada semacam pembenaran bahwa kita boleh cengeng dengan masalah, kita boleh kalut, dan bisa saja kita boleh menikmati masalah yang kita hadapi. Bahasa adalah alat wacana akan sebuah pemikiran dan iklan-iklan tersebut menawarkan wacana solusi kegalauan tersebut. Secara terang-terangan manusia (dalam konteks tulisan ini, anak muda) dibenarkan untuk lemah, dibenarkan untuk sedih berkepanjangan, dan adalah lumrah jika masalah perasaan itu memang tidak mudah. Pelakunya tidak pandang bulu, baik laki-laki maupun perempuan atas nama konsumerisme menjadi sasaran mutlak kegalauan.

Kita boleh bersedih dalam menghadapi permasalahan terutama jika itu merupakan musibah atau kemalangan. Tetapi apa perlu kita menjadi menyedihkan dalam menghadapi permasalahan itu? Parahnya lagi, untuk masalah galau dalam perasaan cinta. Bagaimana dengan galau-galau dalam konteks lainnya? Iklan-iklan tersebut menjadi alat distraksi akan kenyataan menyeluruh terhadap kehidupan. Mereka hanya memanfaatkan segmentasi pasarnya yang anak muda tersebut. Anak muda yang sering dikonotasikan dengan galau, dilema, labil, dan emosional dianggap tidak cerdas dan mudah dijadikan sasaran empuk penjualan produk jasa seluler.

Selanjutnya yang akan terjadi adalah timbulnya justifikasi. Mau menjadi mahkluk yang melankolis, mau menjadi figur yang menyedihkan, atau mau menjadi pribadi yang bermasalah, solusinya adalah dengan mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Penyelesaian masalah akan kegalauan tidak lagi dihadapi dengan kedewasaan, sikap bijak, kesabaran, maupun nilai-nilai sederhana lainnya. Semua dihadapi dengan cara mengadu sebanyak-banyaknya kepada individu-individu lainnya lewat pesan singkat, panggilan suara, jejaring sosial, hingga melakukan hal-hal yang agak tidak masuk akal seperti pemberian sejuta mawar ataupun tindakan-tindakan simpatik lainnya.

Jargon “bebas galau” ataupun “anti galau” nantinya akan menjadi mitos baru bahwa komunikasi tanpa tatap muka pun ternyata bisa menyelesaikan masalah. Tidak akan mengherankan jika nantinya jargon-jargon “galau” berikutnya akan bermunculan. Karena makna galau telah menjadi konotasi yang dekat dengan percintaan.

Menjadi konsumen bijak itu sangat sulit. Selain berhadapan dengan konflik antara kebutuhan dengan keinginan, pengguna juga dihadapkan dengan serbuan bahasa iklan yang persuasif yang ditutupi dengan narasi yang menghibur tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan bahwa apakah kita sebenarnya sedang galau dalam cinta ataukah sebenarnya kita sedang galau dengan berkomunikasi. Hal ini tidak terelakkan karena memiliki telepon seluler saat ini bukan lagi hal yang menentukan identitas penggunanya. Pembedaan hanya terletak dari merek dan spesifikasi, tetapi hampir semua orang saat ini sudah punya telepon seluler. Teknologi yang sedianya diciptakan untuk mempermudah manusia sekarang justru menjadi alat bergalau. Dan kegalauan itulah yang saat ini tengah dimanfaatkan.

Galau itu manusiawi, tetapi alangkah bijaknya kalau kegalauan dihadapi dengan kematangan berpikir dan berperilaku, bukan dengan menjadi korban iklan dan permisif menikmati kegalauan tersebut.

 

(Artikel dimuat di harian Padang Ekspres tanggal 25 Maret 2012)

Figure-Review Sites

I occasionally browse several websites that contain review of particular action figures, plastic model kits, memorabilia, and etc. This is important for those who want to buy the targetting figure whether the purchase will be worth money spend or not. The following links are several websites that I recommend to dig more about figure reviews.

1. Hacchaka

This website is easy to navigate although everything there is written in Japanese language. The site regularly reviews recent products that just available on the market.

2. Shishioh

Literally the site means “Lion King” (Shishi = lion, oh = king). Contains great photographic reviews from certain popular lines of action figures. And the photos here are actually in high resolution format, so be aware and have good connection to make the sites easily accessible.

3. Gamu Toys

Quite similar with Shishioh, various reviews from popular lines. Still, you need proper knowledge of Japanese language to navigate this site.

4. TASTE

Again, quite similar with Shishioh or Gamu Toys, a good reference though.

5. ガンプラの山を崩せ (Gunpla no Yama o Kuzuse)

Better known as Schizophonic 9, this website focuses more on building, modifying, or costumizing Gundam plastic model. Several customized gunplas on this website are outstanding, although the website itself is very difficult to navigate because of strange arrangement of site and unclear categories available there.

6. Unoyo / Yo’s Toy Box

This site is unique, contains action figures not being reviewed by others such as candy toys, DX toys, and many more.

7. Dalong Gunpla

Looking no more about gunplas other than reviews from Dalong. It is in Korean language but it is very easy to navigate. Even the site gives option to change the name of gunplas into English. It contains very detailed review from runners into completed gunplas with stickers or decals. I believe that the website was made with full of passion about gunplas. This is a recommended website for those who want to buy gunpla.

8. Collection DX

One comprehensive figure review website available in English. The figure reviewed here are vary from several DX, Transformers figure, even model kits are also available. My only complain to this website is similar to Shishioh, it takes time to load one page of review. But the reviews are profesionally handed by those who understand the world we talked about.

9. 俺の趣味的日記 / Diary of My Hobby

I often browse this website because of various model kit reviews ranging from gunplas, miniplas, and several line up of action figures that worth looking.

10. Katsumix Minipla

This one is special for Minipla’s lover. Only contains review of recent miniplas released since 2002 (although several pictures are without detail reviews) but strangely, all miniplas in here are without stickers (marking seals, decals). With these naked miniplas, the reviews are straightforward and no nonsensical explanation. Even the language in this website will not be detectable for several computers / tablets.

11. 戦隊ミニプラ工作室 / Sentai Minipla Workshop

Only focus on customized miniplas, but in a cool sense. The name of the site already explains the content.

12. Ooebi’s Hobby Factory

This website is very good in handling toy reviews varied from Kamen Rider, Super Sentai, Ultraman, and even Transformers.

13. プラモ・フィギュア最新情報 GA Graphic / GA Graphic News Plastic Figures

This is a website for preview of several line-up that will be available on the market soon.

14. Hobby no Toriko

Another good website contains several top-notch customizations from favorite gunplas.

That’s all I can share for now. I will add more websites for references in the future, for those needed. Enjoy!