Gangnam Style dan Dunia Kita

Barangkali isu kiamat atau bencana tahun 2012 yang sejak tiga tahun terakhir didengungkan hanya sekedar isu. Namun 2012 memberikan sebuah fenomena budaya populer yang efeknya jauh dari kata kiamat atau kehancuran. Seorang penyanyi bertubuh tambun berhasil menaklukkan dunia lewat lagu dan goyang yang sangat mudah dicerna siapapun. Dari hanya sekedar lagu dengan video musik, “Gangnam Style” telah berubah menjadi fenomena yang mencengangkan sepanjang tahun 2012 ini.

Gangnam Style adalah lagu yang dinyanyikan oleh Psy, dan tidak ada yang aneh dari lagu tersebut. Lagu rap dengan iringan irama techno yang repetitif dan catchy (mudah diingat) merupakan formula yang sudah banyak dipakai di beberapa lagu lainnya. Yang membuat Gangnam Style menjadi fenomenal adalah berkat musik video yang berisi goyangan ala menunggang kuda dan berbagai pose-pose nyeleneh lainnya. Kombinasi musik, goyangan, dan video musik, Gangnam Style telah menular ke seluruh dunia.

Psy harus berterima kasih pada YouTube yang dengan mudah diakses dimanapun di seluruh dunia. Saat tulisan ini dibuat, jumlah penonton yang menyaksikan video musik Gangnam Style di YouTube telah mencapai 900 juta lebih penonton dan masih terus berjalan. Gangnam Style telah menjadi video musik yang paling banyak ditonton mengalahkan video musik “Baby” oleh Justin Bieber pada tanggal 24 November 2012 kemarin. Gangnam Style sudah diparodikan berkali-kali, dan dijadikan alat flash mob (pertunjukan dengan melibatkan banyak orang). Psy sendiri sudah menyanyikan lagu tersebut di berbagai acara-acara musik maupun konser-konser di seluruh dunia.

Menurut pengakuan Psy sendiri, filosofi lagu Gangnam Style sendiri sangatlah sederhana: dress classy, dance cheesy (berpenampilan dengan mahal, bergoyang dengan murahan). Perumpamaan yang sangat kontras ini sesuai dengan konten video musiknya yang memang berisikan narasi-narasi pribadi berpakaian elit tetapi bergoyang dengan sangat leceh. Dimulai dari goyangan menunggang kuda, goyangan pinggul, hingga gerakan-gerakan lainnya yang cenderung vulgar dan tidak sopan untuk dideskripsikan.

Kekuatan Gangnam Style sendiri memang terletak pada kontennya yang boleh dibilang asal-asalan tersebut. Penyanyi yang fisiknya tidak seperti anggota boyband, lirik lagu yang sama sekali tidak dimengerti oleh mereka yang tidak tahu bahasa Korea, goyangan yang bodoh dan menggelikan, hingga segala keanehan-keanehan yang ditawarkan video musiknya itu sendiri. Tapi segala kekacauan inilah yang membuat Gangnam Style menjadi sangat terkenal dan berubah menjadi fenomena yang mencengangkan siapapun di dunia. Sulit untuk tidak tersenyum apalagi tertawa menyaksikan video musiknya tersebut.

Dalam pembacaan ideologis, Gangnam Style menjadi corong propaganda Korea Selatan dalam menanamkan pengaruhnya ke seluruh dunia lewat fitur musik dan budaya populer. Apabila gelombang K-Pop sebelumnya lebih bersifat sektoral (terbatas oleh wilayah tertentu), berkat Gangnam Style, seluruh dunia terhipnotis dan meningkatkan keingintahuan terhadap K-Pop. Gangnam Style menjadi alat ideologi gratis tentang dunia Korea. Menurut filsuf Slavoj Zizek sendiri, Gangnam Style adalah murni fenomena ideologis dari kapitalisme. Betapa tidak, lagu Gangnam Style menjadi sangat laris diperjualbelikan secara digital dan menjadi salah satu lagu K-Pop yang mengisi berbagai tangga lagu dunia.

Sebaliknya Gangnam Style adalah semacam tamparan terhadap realita dunia yang terjadi saat ini. Dunia yang berjalan dengan rutinitas yang repetitif seperti irama lagunya. Dan filosofinya tadi menggambarkan wajah memalukan dunia kita lewat cara yang humoris. Berapa banyak sekarang mereka yang berpakaian classy tapi berperilaku cheesy terjadi di sekitar kita? Gangnam Style adalah sebuah parodi kehidupan kita yang selalu sibuk berurusan dengan imaji-imaji penampilan tapi bertingkah kontras dengan menunjukkan perilaku-perilaku memalukan. Apabila dihubungkan dengan apa yang terjadi di Indonesia, kita seperti menyaksikan berbagai oknum dan pelaku tertentu ber-Gangnam Style-ria dengan kehidupan banyak orang. Entah bagaimana pula dengan yang ada di belahan dunia lainnya.

Gangnam Style adalah fenomena yang unik tetapi tidaklah terlalu mengherankan. Batas wilayah, bahasa, hingga budaya, mampu dilampaui dengan mudah hanya dalam hitungan tiga menitan saja. Di tahun ’90-an, kita sudah pernah mengalami hal serupa meskipun skalanya tidak sebesar Gangnam Style ini. Saat itu sangat populer lagu Macarena yang liriknya tidak terlalu dimengerti tetapi memiliki irama yang catchy dan goyangan yang sangat mudah ditiru. Yang membedakannya adalah saat itu penggunaan internet belum seluas sekarang dan belum ada media YouTube. Tapi Macarena menawarkan formula yang sama dengan Gangnam Style.

Untuk Gangnam Style sendiri, goyangannya bisa dipraktekkan dengan sekali melihat saja. Dari segi liriknya saja yang mampu diingat banyak orang hanya “Oppa Gangnam Style” dan “Heeeyyy Sexy Lady”. Tapi itu lebih dari cukup untuk membuatnya populer. Kepopuleran berkat viral marketing (menjalar) seperti virus membuat banyak orang di seluruh dunia mengenal Gangnam Style ini.

Sekarang zamannya internet. Dalam skala lokal saja kita sudah berkali-kali disuguhi fenomena instan dari internet seperti Sinta-Jojo hingga Briptu Norman Kamaru. Tetapi Gangnam Style adalah fenomena parodi kehidupan kita di dunia yang sibuk merumit-rumitkan banyak hal. Entah demi menjaga imaji penampilan, atau entah harus berhadapan dengan realita yang keras, seorang Psy mengajarkan kita bahwa ujung-ujungnya kita bisa saja akan melakukan hal yang memalukan.

Pada akhirnya kita ditaklukkan oleh Gangnam Style yang secara kasar dan sarkas tengah meledek dunia kita saat ini. Bisa saja ini hanya fenomena sementara dan berganti fenomena-fenomena lainnya di masa depan. Namun Gangnam Style tidak lagi dibaca sebagai sebuah lagu dengan video musiknya yang berantakan itu, melainkan telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan kita. Sejarah yang fenomenal.

(Ditulis tanggal 13 Desember 2012, dimuat di harian Padang Ekspres 6 Januari 2013)

Catatan: Saat ini Gangnam Style sudah ditonton lebih dari 1 milyar penonton di YouTube.

About edriasandika

- Lecturer - Blogger - Popular Culture Fan - Figure Collector - Model Kit enthusiast

Posted on January 6, 2013, in Article and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: