Menjual Galau

Menurut KBBI daring (dalam jaringan atau online), kata “galau” berarti kacau tidak karuan di dalam pikiran. Kata galau akhir-akhir ini sangatlah populer terutama di kalangan anak muda berkat penyedia jasa telekomunikasi seluler aktif mengiklankan produk mereka dengan penggunaan kata tersebut maupun konotasi dari kata itu sendiri. Secara tidak langsung kata galau telah begitu dekat dengan anak muda yang sedang memikirkan permasalahan yang dihadapinya, dalam hal ini, masalah percintaan. Tidak salah memang, karena telepon seluler adalah benda terdekat yang dimiliki manusia di era (pos)-modern ini yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Telepon seluler atau HP (dari kata handphone) telah menjadi benda yang sangat vital dalam komunikasi tanpa tatap muka baik berupa suara, pesan tertulis, bahkan daring melalui berbagai jejaring sosial yang ada.

Iklan-iklan penyedia jasa seluler saat ini bertumpu pada narasi percintaan anak muda. Biasanya dimulai dengan pertengkaran, lalu merasa galau dan mencari tempat mengadu, dan akhirnya usaha tersebut menemukan solusi dengan fitur-fitur menarik yang ditawarkan. Narasi tersebut diakhiri dengan penyelesaian masalah maupun berlanjut pada iklan edisi berikutnya. Ada iklan yang terkesan sedih atau suram, ada pula yang dibahasakan secara komedi dan berlebihan. Formula masalah dengan solusi merupakan hal yang sangat baku dan sering dipakai pada banyak iklan-iklan media visual.

Sesungguhnya ini merupakan fenomena yang tidak mengherankan karena kata galau sudah sangat familiar dalam Bahasa Indonesia tidak hanya dalam konteks percintaan saja. Sekarang kita sudah maklum apabila kita mendengar kata galau pada seseorang berarti orang tersebut sedang bermasalah dengan perasaannya. Pemahaman yang demikian mungkin menjadi pertimbangan penyedia jasa seluler menargetkan sasaran iklan untuk segmentasi anak muda yang jumlahnya dalam pasaran tidaklah sedikit. Apalagi dengan zaman yang sudah berubah, saat ini kita secara dominan menghabiskan pulsa selain untuk komunikasi secara umum juga untuk yang berhubungan dengan masalah percintaan. Dari panggilan suara, pesan singkat, ataupun akses jejaring sosial via telepon seluler, semua dihabiskan demi memberikan ketenangan akan masalah hati yang diceritakan tengah galau.

Tapi kita tentu tidak lupa dengan bahasa iklan yang persuasif karena dari dulu metode iklan penyedia jasa seluler selalu sama. Sejak zaman persaingan “sekian rupiah per detik”, “bisa internet-an”, gratis ini gratis itu”, “paling murah dari yang lain”, semua hanya menawarkan gimmick (gaya-gayaan) yang selalu dipatahkan dengan “syarat dan ketentuan berlaku”. Kali ini dengan memanfaatkan kata galau dengan target “anak muda yang galau dalam cinta” jelas dibahasakan dengan maksud mengkonsumsi produk tertentu sebanyak-banyaknya. Semua kegalauan yang terjadi bisa teratasi dengan berkomunikasi secara jor-joran (abusive). Dan ironisnya, formulanya pun gampang ditebak. Hilang galau yang satu, maka galau selanjutnya yang akan datang menghampiri. Dengan kata lain, konsumsi produk tersebut sekali lagi dan begitu seterusnya.

Sebenarnya ini kembali ke konsumen itu sendiri, dalam konteks ini, anak muda. Galau menjadi semacam tren pembenaran atas lemahnya diri dalam menyelesaikan masalah. Jangan salahkan penyedia jasa seluler yang memang sedang berdagang, tetapi coba kembalikan ke refleksi diri sendiri dalam menyikapi permasalahan yang dihadapi. Iklan-iklan tersebut entah menawarkan solusi atas kegalauan, atau jangan-jangan memang beginilah anak muda di dekade kedua abad ke-21 ini.

Meskipun narasi iklan-iklan tersebut kadang diperlihatkan dengan humoris, ada semacam pembenaran bahwa kita boleh cengeng dengan masalah, kita boleh kalut, dan bisa saja kita boleh menikmati masalah yang kita hadapi. Bahasa adalah alat wacana akan sebuah pemikiran dan iklan-iklan tersebut menawarkan wacana solusi kegalauan tersebut. Secara terang-terangan manusia (dalam konteks tulisan ini, anak muda) dibenarkan untuk lemah, dibenarkan untuk sedih berkepanjangan, dan adalah lumrah jika masalah perasaan itu memang tidak mudah. Pelakunya tidak pandang bulu, baik laki-laki maupun perempuan atas nama konsumerisme menjadi sasaran mutlak kegalauan.

Kita boleh bersedih dalam menghadapi permasalahan terutama jika itu merupakan musibah atau kemalangan. Tetapi apa perlu kita menjadi menyedihkan dalam menghadapi permasalahan itu? Parahnya lagi, untuk masalah galau dalam perasaan cinta. Bagaimana dengan galau-galau dalam konteks lainnya? Iklan-iklan tersebut menjadi alat distraksi akan kenyataan menyeluruh terhadap kehidupan. Mereka hanya memanfaatkan segmentasi pasarnya yang anak muda tersebut. Anak muda yang sering dikonotasikan dengan galau, dilema, labil, dan emosional dianggap tidak cerdas dan mudah dijadikan sasaran empuk penjualan produk jasa seluler.

Selanjutnya yang akan terjadi adalah timbulnya justifikasi. Mau menjadi mahkluk yang melankolis, mau menjadi figur yang menyedihkan, atau mau menjadi pribadi yang bermasalah, solusinya adalah dengan mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Penyelesaian masalah akan kegalauan tidak lagi dihadapi dengan kedewasaan, sikap bijak, kesabaran, maupun nilai-nilai sederhana lainnya. Semua dihadapi dengan cara mengadu sebanyak-banyaknya kepada individu-individu lainnya lewat pesan singkat, panggilan suara, jejaring sosial, hingga melakukan hal-hal yang agak tidak masuk akal seperti pemberian sejuta mawar ataupun tindakan-tindakan simpatik lainnya.

Jargon “bebas galau” ataupun “anti galau” nantinya akan menjadi mitos baru bahwa komunikasi tanpa tatap muka pun ternyata bisa menyelesaikan masalah. Tidak akan mengherankan jika nantinya jargon-jargon “galau” berikutnya akan bermunculan. Karena makna galau telah menjadi konotasi yang dekat dengan percintaan.

Menjadi konsumen bijak itu sangat sulit. Selain berhadapan dengan konflik antara kebutuhan dengan keinginan, pengguna juga dihadapkan dengan serbuan bahasa iklan yang persuasif yang ditutupi dengan narasi yang menghibur tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan bahwa apakah kita sebenarnya sedang galau dalam cinta ataukah sebenarnya kita sedang galau dengan berkomunikasi. Hal ini tidak terelakkan karena memiliki telepon seluler saat ini bukan lagi hal yang menentukan identitas penggunanya. Pembedaan hanya terletak dari merek dan spesifikasi, tetapi hampir semua orang saat ini sudah punya telepon seluler. Teknologi yang sedianya diciptakan untuk mempermudah manusia sekarang justru menjadi alat bergalau. Dan kegalauan itulah yang saat ini tengah dimanfaatkan.

Galau itu manusiawi, tetapi alangkah bijaknya kalau kegalauan dihadapi dengan kematangan berpikir dan berperilaku, bukan dengan menjadi korban iklan dan permisif menikmati kegalauan tersebut.

 

(Artikel dimuat di harian Padang Ekspres tanggal 25 Maret 2012)

About edriasandika

- Lecturer - Blogger - Popular Culture Fan - Figure Collector - Model Kit enthusiast

Posted on August 28, 2012, in Article. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: