Latah Boyband- Girlband Korea di Indonesia

Belakangan kita mulai menemukan booming kelompok boyband dan girlband bercita rasa Korea di tanah air, terutama melalui publikasi media televisi. Suksesnya pengaruh K-Pop ke dalam musik Indonesia menciptakan tren dan diikuti banyak orang, terutama dari kawula muda atau remaja. Melihat fenomena K-Pop dan respon masyarakat terhadapnya sesungguhnya sangat menarik untuk disimak.

Kehadiran boyband dan girlband bercita rasa Korea di negeri ini semakin ramai, terutama yang ditayangkan di TV. Pengaruh K-Pop sukses masuk ke dalam musik Indonesia dan menjadi tren yang diminati banyak orang, khususnya kawula muda atau remaja. Fenomena K-Pop ini pun semakin menarik untuk diamati dan direspon sebagai bagian dari budaya pop.

Mungkin sudah perlu memaklumi untuk kesekian kalinya fenomena bernama latah, ikut-ikutan, jika tidak mau dibilang meniru atau menjiplak, muncul di media hiburan Indonesia. Semenjak sinetron religius, kontes bakat ber-sms, film horor tapi isinya sensualitas saja, hingga komedi yang menjerumuskan seseorang ke gabus. Kita selalu disuguhkan hal yang sama berkali-kali. Bahkan yang terbaru di televisi saat ini yakni program trivial tentang keunikan-keunikan tertentu dalam angka. Jika ada suatu tren disukai banyak orang, maka ramai-ramai yang ‘mirip’ bermunculan. Entah itu acara televisi, aliran musik, film, produk, gaya berpakaian, dan sebagainya.

Khusus fenomena boyband-girlband ini, memang bukanlah hal baru di negeri ini. Sejak era ’90-an kita sudah disuguhkan Backstreet Boys, Boyzone, Spice Girls, New Kids on the Block, Take That, sampai kepada Westlife. Lalu orientasi selera seperti ini sedikit beralih pada awal tahun 2000-an dengan kehadiran F4 yang populer dengan lagu-lagu dan serial Meteor Garden-nya. Tetapi yang mulai menunjukkan hegemoni musik pop akhir-akhir ini adalah para grup boyband dan girlband asal negeri ginseng. Sekarang kita tidak asing dengan nama-nama seperti Super Junior, Girls’ Generation (So Nyeo Shi Dae), Wonder Girls, Shinee, 2NE1, DBSK, Kara,  dan masih banyak lagi yang bisa saya sebutkan.

Terima kasih pada media internet bernama YouTube, semua itu bisa dinikmati dengan mudah dan gratis. K-Pop pun mulai merajai pasar musik Asia dan tidak terkecuali di Indonesia.  YouTube berhasil membuat mereka populer bahkan sampai dibuat saluran khusus K-Pop berkat popularitas tersebut. Pengaruh K-Pop menciptakan tren yang saat ini cukup berpengaruh di Asia, terutama di Indonesia sendiri. Pengaruhnya bisa terasa hingga seorang penyanyi dangdut yang baru populer bernama Ayu Ting Ting berdandan ala Korea demi mengikuti tren yang tidak berhubungan dengan genre musiknya sendiri.

Tentu saja bisa ditebak arah selanjutnya, para penguasa pasar musik dalam negeri mulai membidik selera tersebut dengan menciptakan girlband dan boyband sejenis, tetapi produk lokal. Maka muncul SM*SH, 7 Icons, Cherrybelle, Super Girlies, Max5 , Treeji , XOIX , Blink, Dragon Boyz. Saya yakin girband dan boyband lain akan segera muncul. Bagi penggemar K-Pop sejati, jelas kehadiran boyband-girlband lokal tersebut akan ditentang habis-habisan. Namun sepertinya produk lokal ini akan hadir terus, terlepas dari kehadiran mereka akibat kepopuleran grup-grup asal Korea, jika tidak mau dianggap ‘tiruan’, ‘KW’, ‘jiplakan’, dan atribut negatif peniruan lainnya.

Sesungguhnya cara mereka hadir dalam musik Indonesia sudah cukup strategis. Penggunaan jargon ‘cenat-cenut’ dari SM*SH, ‘ga ga ga ga kuat’-nya 7 Icons sampai ‘really really love you’-nya Cherrybelle bisa membuat siapapun pendengarnya mengulang-ngulang kata dalam lirik lagu mereka. Entah bermaksud repetitif, atau ingin menghipnotis, boyband dan girlband tersebut berusaha mencari jati diri mereka sendiri dalam musik tanah air.

Tapi lagi-lagi masalah jati diri atau identitas yang akan selalu dipermasalahkan kepada mereka. Suka atau tidak, kehadiran mereka dalam blantika musik Indonesia adalah berkat populernya boyband girlband K-Pop tersebut. Sehingga pandangan pragmatis dan sinis terhadap mereka karena mereka hadir disebabkan oleh latah, dan hobi suka meniru, menjadi pembenaran yang nyata. Kehadiran mereka sekaligus membuat batas antara ‘terinspirasi’ dengan ‘meniru’ menjadi sama saja dan tidak pernah jelas.

Tapi mencela dan antipati terhadap kehadiran mereka justru membuat mereka tambah populer. Kontroversi menciptakan keuntungan dengan sendirinya. Memang menjadi ironi yang menggelikan melihat fenomena ini. Penggemar musik mulai melirik K-Pop, sedikit atau banyak, karena jenuh dengan monotonnya musik dalam negeri atau musik mancanegara lainnya. Terlepas dari ganteng-cantiknya personel grup tersebut, keren tidaknya goyangan mereka,  irama musik dan lirik yang gampang dicerna, penggemar ini menikmati K-Pop karena kejenuhan tersebut. Sayangnya, respon penguasa industri musik dalam negeri menganggap ini hanya sebagai efek domino yang juga harus dicoba.

Etos kerja boyband dan girlband Korea jelas berbeda. Mereka dilatih bertahun-tahun sebelum hadir dalam dunia hiburan. Mereka dilatih dengan keras dan disiplin sehingga mereka benar-benar siap tampil di depan publik penikmat musik pop. Sementara yang hadir dari produk lokal adalah dengan formula ikut-ikutan tadi, tanpa proses sejenis. Kapitalisme Korea sukses dijalankan sehingga dikonsumsi tidak hanya di Korea saja, tapi hampir di seluruh Asia. Grup vokal berjenis boyband girlband tidak asing dalam industri musik, tetapi mereka bisa menciptakan citarasanya sendiri. Sementara di Indonesia, kita berhadapan dengan sikap ‘sinis tapi suka’ dengan produk sejenis tanpa jatidiri. Lagipula grup-grup asal Korea tersebut juga banyak berkiblat pada pemusik dari barat, kenapa kita tidak bisa?

Sesungguhnya grup-grup musik lokal itu berprospek cerah, jika saja pandangan-pandangan sinis dan pragmatis tadi bisa dijawab dengan kemampuan dan kesan yang berbeda dari grup-grup asal Korea. Tidak perlu membawa isu negara dan budaya di sini, tapi cukup tampilkan identitas yang berbeda. Sehingga kata-kata ‘terinspirasi’ tidak disalahgunakan dan menjadi pembenaran. Tidak perlu pula harus membuat pelatihan sejenis jika memang tidak cocok. Jika waktu tren ini hadir yang menjadi permasalahan, dari dulu kita sudah punya grup-grup sejenis seperti ME Voices, Cool Colors, Cowboy, atau AB Three. Tapi kemasan penyajianlah yang sekarang menentukan ketimbang kemampuan olah vokal saja. Sekarang zamannya visual, menikmati musik tidak sekedar suara merdu dan lirik manis, tetapi juga wajah-wajah ganteng dan cantik dibarengi gerakan koreografi yang keren dan energetik. Semua didapatkan dari grup-grup asal Korea tersebut.

Jika saja kita bisa mengolah tren dengan lebih baik, kita akan selalu menjadi tuan rumah di negeri sendiri terhadap budaya yang kita ciptakan atau kita adaptasi dari budaya lainnya.

 

(Artikel dimuat di Padang Ekpres tanggal 8 Januari 2012)

About edriasandika

- Lecturer - Blogger - Popular Culture Fan - Figure Collector - Model Kit enthusiast

Posted on August 28, 2012, in Article. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: