VGMC-AGMAC, Penipuan Tak Berkesudahan

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih pada semua pengunjung blog, ternyata postingan saya yang berjudul VGMC Itu Penipuan menjadi populer dan disimak dengan serius. Jadi, bagi yang baru membaca postingan ini, ada baiknya menyimak apa yang saya tulis di tulisan sebelumnya. Tujuan saya saat itu hanya agar tidak ada lagi korban2 penipuan (scam) berbasis skema Ponzi ini semakin berjatuhan. Tapi sayangnya saya keliru, VGMC lebih lihai sekarang dengan adanya AGMAC dan semakin aneh2 dengan CPS Platinum dan CPS Silver yang saya sendiri orang awam melihatnya jadi geli tapi tambah prihatin. Berita terbaru sendiri menyebutkan ada pula namanya Deklarasi Pemegang Saham yang buat saya hanyalah praktek mengulur2 episode ke-sekian kalinya.

Saya akan bahas satu2 agar semua yang membaca postingan saya lebih mudah memahami konten yang saya utarakan. Dan mohon maaf, saya tidak bisa menulis ini dalam bahasa Inggris karena target saya untuk postingan ini adalah untuk orang Indonesia yang paling banyak terjebak oleh penipuan ini. Dan saya tidak akan pakai bahasa bertele2, saya akan melihat dari sisi awam dan humanis sehingga lebih mudah dipahami.

1. AGMAC

Asian Gold Mining Asset Corporation (AGMAC) ditujukan untuk mengalihkan CPS Gold yang sudah macet sejak Oktober 2012 kemarin. Dari sini saja sudah bisa ditebak kalau orientasi investasi VGMC jadi kabur dan sangat tidak masuk akal. Pertanyaan yang menjadi krusial gara2 hal ini adalah: Jadi VGMC ini perusahaan tambang, atau perusahaan investasi tambang, atau investasi emas semata atau apa sih? Pengelolaan Professional Closed End Fund (PCEF) sendiri kok malah terkesan semakin ribet? Kok bisa2nya dialihkan?

Saya lebih membacanya sebagai usaha mengulur2 waktu dan memberi harapan2 “menjelang IPO” yang entah berapa banyak korban VGMC mengerti maksudnya. Sekarang pertanyakan saja secara logis, dulu memasukkan uang dalam jumlah besar agar mendapat deviden segera kan? Kok mau diulur2?

Atau jawab saja pertanyaan yang sampai detik ini tak terjawab: di mana lokasi tambang emas VGMC?

2. Deklarasi Pemegang Saham

Ini apa? Dalam dunia investasi setahu saya tidak ada namanya deklarasi pemegang saham. Saya membacanya ini sebagai usaha menilapkan saham yang dimiliki shareholder karena bisa saja perusahaan mengalihkan kepemilikan saham preferen ke saham biasa atau sebaliknya. Ini mana ada dalam dunia saham atau investasi? Kok bisa ya AGMAC memperlakukan ini?

3. CPS Silver dan CPS Platinum

Ini saja sudah cukup membuktikan ketidak-konsistenan VGMC/AGMAC dalam menjalankan bisnis ini. SH dipaksa beralih ke platina lalu diberi pula opsi kepemilikan perak. Di mana2 itu yang ditawarkan itu adalah saham kepemilikan perusahaan, bukan saham produk. Kalau saya ingin memiliki saham Google, maka yang saya mau itu ya saham kepemilikan atas Google, bukan sahamnya Google Translate, GMail, Google Earth, Google Map, YouTube, Blogger, ataupun produk Google lainnya.

Saya membaca lebih sebagai usaha memperpajang nafas perputaran uang deviden yang sudah macet di CPS Gold.

————————————-

Tergiur fix income (pendapatan tetap), itulah yang menjadi alasan kenapa banyak orang menginvestasikan uangnya pada permainan ini. Dengan target masyarakat kelas menengah ke bawah yang buta dunia investasi lalu dengan mudah saja terperdaya hanya dengan unsur “kepercayaan dan positive thinking“. Dalam dunia ini tidak pernah filosofinya “positive thinking” melulu. Saya selalu beradu argumen dengan mereka yang pro VGMC yang sayangnya selalu tidak tepat sasaran. Saya beragumen menggunakan logika dan pertimbangan yang jelas, saya selalu dijawab dengan alasan2 beraroma ‘jangan berburuk sangka dulu’, ‘kita tunggu saja nanti saat IPO’, atau alasan2 yang lebih berbau ngeles ketimbang menjawab pertanyaan saya tersebut.

Semua pertanyaan yang saya ajukan di postingan saya sebelumnya tidak ada satupun terjawab sampai saat ini.

Sekarang saya bicara dari sisi humanis, skema ponzi adalah realitas masyarakat kita yang serakah (greedy), mau senang tanpa usaha, dan tidak telaah sebelum bertindak. Saya hanya bisa mengurut dada saat membaca keluhan2 korban VGMC yang sudah kesulitan finansial tetapi deviden yang diharapkan tak kunjung datang. Kesulitan finansialnya sendiri tak tanggung2. Saya bahkan mendengar ada yang sampai menggadaikan ladang sawitnya, meminjam dana dari Bank kelewat besar, hingga ada yang memakan biaya haji dan umrah keluarga sendiri.

Tulisan ini tidak mengangkat hal yang baru, karena semua yang saya tulis di postingan sebelumnya sudah kelewat jelas dan berdasar. Yang sampai saat ini masih mengherankan, kenapa masih banyak yang ngotot membela VGMC mati2an sementara dari VGMC sendiri benar2 tidak pernah jelas dan tidak pernah konsisten. Terutama poin konsistensi, ini yang tidak pernah dipegang sama sekali. SH dipaksa top-up terus menerus, dipaksa mengalihkan saham, berkali2 bilang IPO tapi tak jelas prosesnya, dll. Jika dibawa berpikir, adalah aneh sebuah investasi tapi penanam modalnya dibuat ketar-ketir terus, dibuat gelisah, dibuat panik karena ketidak-jelasan.

Ada sebuah ironi yang miris kala terjadi adu argumen antara mereka yang pro-VGMC dan yang kontra-VGMC. Jawaban2 yang diberikan sudah bisa dinilai oleh orang awam sekalipun. Apabila pro-VGMC memberikan argumen, maka argumen seluruhnya mampu dipatahkan dengan analisis yang tepat oleh para kontra-VGMC. Sementara mereka yang pro-VGMC tidak pernah memberikan jawaban2 yang memuaskan atas pertanyaan2 krusial yang diajukan. Umumnya pasti akan ‘ngeyel’ dan ‘ngeles’ semisal ini investasi unsur kepercayaan, kenapa kontra-VGMC ribut terus, atau malah mengalihkan topik tanpa menjawab pertanyaan2 krusial tadi.

Seriously, I’m tired of this s**t!

Saya menulis ini dan mereka yang kontra-VGMC menentang bukan karena apa2 kecuali menghindari banyak orang2 berjatuhan karena penipuan2 yang awalnya diiming2i oleh VGA ambassador VGMC tersebut. Saya pribadi tidak ingin apa2 kecuali tidak lagi melihat berbagai keluhan dan kesedihan karena sudah banyak program2 serupa yang lebih dulu kolaps. Tapi itu tadi, masyarakat tidak suka belajar dari sejarah, dan ini yang terjadi sekarang. Berbulan2 dijanjikan bakal IPO, bakal IPO, bakal IPO, bagaimana mau IPO sementara laporan tahunan saja tak pernah ada. Bagaimana pula orang masih dipaksa ‘positive thinking‘ yang memalsukan itu sementara ‘realistic thinking‘ yang sebenarnya paling diperlukan justru diabaikan begitu saja. Masyarakat kita dipermainkan, diperas, dan dijadikan bahan olok2an karena kurangnya kekritisan pemikiran kita akan berbagai hal, termasuk investasi bodong ini.

Saya hanya bisa klise, tapi tapi saran saya sangat sederhana. Jadilah pribadi yang kritis.

Di saat ada sesuatu hal yang baru tetapi menggiurkan dan sulit dipercaya, seharusnya ditelaah lebih dalam. Dikenali seluk-beluknya terlebih dahulu, apa dan bagaimana proses bisnis beserta resiko2nya. Mana izin bisnisnya, bagaimana prospek ke depannya, dll. Kita harus mencari tahu lebih banyak, digali sumber informasi seluas2nya sebelum bisa percaya.

Mungkin ini tidak ada hubungannya, tapi mental2 seperti ini bisa saja diakibatkan oleh perilaku masyarakat Indonesia yang malas membaca. Membaca itu penting karena dengan membaca kita menjadi mengerti akan suatu hal. Saya rasa membaca Al-Quran tetapi hanya dalam konteks ‘melafazkan’ saja tanpa mengerti isinya hanya akan sia2 saja. Justru membaca Al-Quran lalu dibahas (ditelaah) isinya yang membuat seseorang berilmu dan malah semakin beriman. Setelah digali kebenarannya barulah bisa kita percaya isinya. Tapi ironi seperti ini juga yang banyak terjadi di Indonesia yang mengaku penduduk Muslim terbesar di dunia. Membaca tapi lebih banyak ‘melafazkan’ ketimbang ‘mendalami’ bacaannya itu.

Seperti juga pada VGMC ini, banyak mereka yang terperangkap dan baru menyadari ini penipuan diakibatkan kurangnya pengetahuan pun tidak berinisiatif mencari lebih lanjut. Pun sampai sekarang masih ngeyel dan ngotot sementara argumen2 kritis justru tak didengarkan. Berbisnis dan investasi tidak bisa berjalan dengan otak bebal dan tak kritis. Apalagi kalau memang bisnis berorientasi pada profit, semestinya berhati2 agar profit itu berkejelasan. Toh profit yang jelas membuktikan sehat tidaknya sebuah investasi bukan?

Harapan saya saat ini cuma satu, VGMC, AGMAC, atau berbagai bisnis skema Ponzi lainnya musnah dari negeri ini. Itu saja.

 

Tambahan:

Sejujurnya, saya benar2 jenuh dengan fanatisme sempit tak terdidik ini. Inilah tipikal masyarakat kelas menengah ke bawah kita yang kurang paham investasi kecuali mengharapkan deviden yang tujuannya sangat tidak mulia dengan cara yang tak ada kerja kerasnya sama sekali. Sebagai seseorang yang berkecimpung dalam bidang budaya atau humanities, ini adalah realita yang menyesakkan saya karena jauh panggang dari api. Membuat masyarakat yang kritis itu memang bukan perkara mudah memang, tapi hanya melalui tulisan seperti ini pula saya bisa berjuang.

Banyak yang bertanya pada saya, siapa lah saya ini? Bukan orang bidang ekonomi dan investasi, saya hanyalah seorang dosen bidang Cultural Studies yang juga penggemar budaya populer (makanya isinya kebanyakan adalah objek budaya populer yang memang merupakan hobi saya). Tapi apa yang saya tulis adalah apa yang terlihat oleh mata kepala saya sendiri. Bolehlah saya dibilang hanya melihat dari luar saja, saya bukan SH, saya tidak ikut di dalamnya tapi sok menganalisis. Saya hanya bisa bilang, tulisan saya ini saja sudah sangat terlambat dibandingkan banyaknya korban2 investasi bodong ini berjatuhan. Lagipula, dari awal tulisan saya memang disasar pada mereka yang awam seperti saya ini, tetapi dengan bahasa yang sederhana dan bisa mudah dimengerti siapapun. Mungkin karena itu pula tulisan saya soal VGMC itu Penipuan menjadi sangat2 populer dan direspon.

Mungkin ini pesan saya yang perlu disimak dengan baik2:
Kenapa masih percaya pada hal2 yang kontradiktif? Kenapa masih ‘dipaksa’ ber-positive thinking sementara realita yang terjadi berkata sebaliknya? Kalau benar kita ini terdidik, semestinya keterdidikan kita mampu mempertanyakan dan mempermasalahkan ketidakpastian dan ketidakkonsistenan yang terjadi, bukan?

Catatan:
Awal mula saya menulis tentang VGMC dan skema Ponzi berawal dari tulisan saya yang berjudul “Investasi Emas?” yang aslinya dipublikasikan di notes FB saya. Berikut ini dua tulisan sebelumnya termasuk “VGMC itu Penipuan”

Investasi Emas?: http://edriasandika.wordpress.com/2012/09/07/investasi-emas/
VGMC itu Penipuan: http://edriasandika.wordpress.com/2012/10/06/vgmc-itu-penipuan/

About edriasandika

- Lecturer - Blogger - Popular Culture Fan - Figure Collector - Model Kit enthusiast

Posted on May 9, 2013, in Article and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. membaca Al-Quran jangan disamakan membaca Koran donk pak…..ingat pak membaca 1 huruf saja pahalanya dilipatkan 10 x lipat, bpk bilang sia sia membaca Al quran tanpa tau maknanya, pdhal membaca saja itu sudah mendpt pahala, bahkan niat saja akan mendpt pahala. Ruh Al quran itu akan masuk ke jiwa yg membacanya…hati2 kalo membuat analogi, anak kecil yg baca iqro tentu tdk tau artinya kan….apa itu jg disebut sia sia …..

  2. Saya tidak menyamakan “membaca” Al-Quran dengan membaca koran sama sekali di dalam tulisan saya. Saya mempermasalahkan perilaku banyak orang yang sering “membaca” (reciting) tapi hanya “melafazkan” ketimbang “memahami” (understanding). Saya juga tidak ngomong soal pahala, tetapi satu yang saya pahami, adalah percuma bacaan apapun (apalagi ayat suci Al-Quran) hanya sebatas dilafaz tapi tak ada yang tahu artinya.

    Seharusnya dalam mengaji diajarkan memahami bacaannya karena di situ “penting”nya Al-Quran, apalagi bagi orang Indonesia yang mana bahasa Arab bukan bahasa ibu. Justru anak kecil setelah dibaca harus dijelaskan apa artinya, sehingga dengan pemahaman yang diberikan menjadikannya dia beriman.

    Saya rasa analogi saya sangat jelas. Saya tidak akan mengerti isi Al-Quran sama sekali kalau tidak tahu artinya, interpretasinya kalau hanya sampai “melafazkan”. Di mana2 membaca sesuatu itu untuk “dipahami”, bukan hanya di ucapan mulut saja. Apalagi kata2 Allah SWT. Bayangkan apa yang mau “diajarkan” dari Al-Quran sementara isinya saja tidak tahu artinya?

    Ingat, konteks saya di tulisan saya dengan “membaca” itu adalah “mengerti”, atau “memahami”, bukan “melafazkan”. Saya rasa penjelasan saya ini sudah sejelas2nya. Dan kalau anda tidak suka ya maaf, tapi begini pemahaman saya yang belajar dan memahami ayat2 suci.

  3. Yah ternyata bapak beda dg saya….mungkin karena bapak berpendidikan tinggi dan selalu bergumul dg buku ilmu pengetahuan. Sementara saya hanya orang kebanyakan /berpendidikan rendah jadi hanya dengan membaca Al Quran tanpa tau artinya saja rasanya sudah sangat sangat nikmat , bahkan selalu ada keinginan untuk selalu dan selalu mengulang untuk membacanya….kadang hanya mendengarkan lantunan ayat2 Nya saja tanpa tau maknanya, menangis hati ini dibuatnya. Semoga tidak sia-sia apa yg saya lakukan.Allohualam.
    ke topik lain…………………..
    vgmc/agmac menurut analisa bapak adalah scam/penipuan walau kenyataannya masih eksis(tinggal menunggu wkt kali). Bagaimana dg investasi LEM menurut analisa bapak. Trimksh .

  4. Ini bukan masalah pendidikan tinggi atau rendah, tapi lebih dari “belajar dari apa yang dibaca”.. Kalau konteks anda mendengarkan orang melafazkan Al-Quran itu sangat nikmat, tentu saya juga nikmat mendengarnya. Tapi dalam hidup ini ada form (bentuk) dan content (makna). Al-Quran secara form adalah rangkaian ayat-ayat (wahyu) dari Allah yang dihantarkan oleh malaikat Jibril pada Nabi Muhammad SAW. Secara content jelas Al-Quran tidak “berhenti” sebatas melafazkan saja karena “ISI” Al-Quran sangat banyak kandungannya. Ada tentang cerita2 terdahulu, ada berisi syariat, aturan2, hukum, dan hal-hal yang menjadi pedoman hidup. Dan jelas sesuai content-nya Al-Quran adalah tuntunan hidup umat Islam. Dan kalau Al-Quran hanya sampai melafazkan, tentu tak ada yang bisa dipelajari sama sekali.

    VGMC/AGMAC sekarang sudah macet total, dan ini sudah jauh2 hari diprediksi. Permainan berbasis riba seperti ini benar2 banyak mudaratnya ketimbang manfaat. Semua karena basis skema ponzi yang hanya menguntungkan mereka yang masuk di awal tapi menyengsarakan mereka yang masuk di akhir. Jelas mereka2 di awal menangguk keuntungan dari dana2 yang masuk belakangan sebagai pembayar deviden mereka itu. Semudah itu membaca “permainan uang” (alias moneygame) yang mereka lakukan. Ini sudah terjadi pada program2 sejenis terdahulu (ECMC, Speedcash, Swishline, Koperasi Langit Biru, dll).

    Saya belum tahu soal LEM, tapi kalau formulanya memasukkan sejumlah dana agar mendapat deviden “fix” (tetap) yang sangat besar (di atas 5 persen) itu sudah jelas dipastikan permainan uang berskema Ponzi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: